Pada tanggal 22 Oktober 1740 disiarkan amnesti umum, namun hanya beberapa ratus orang Tionghoa saja yang menggunakan kesempatan itu dan mau berdiam kembali di kota Batavia. Mereka mendapatkan sebidang tanah untuk digunakan sebagai tempat tinggal, berada di sebelah barat daya dari kota lama, yg sekarang terkenal dan nama Glodok.
Banyak pihak telah menjadi pelaku pembunuhan secara keji ter hadap orang-orang Tionghoa di Batavia dalam bulan October 1740 itu. Pembunuhan itu dilakukan oleh para pelaut para serdadu dan para pegawai kompeni para penduduk merdeka dan para budak belian serta penduduk Eropah yang bertempat tinggal di Batavia.
Di samping itu fakta-fakta juga menunjukkan bahwa semua anggauta Raad van Indie alias Dewan Hindia juga telah ikut bersalah oleh karena ucapan dan perdebatan mereka dalam persidangan lembaga pemerintahan kompeni Belanda itu di samping telah lalai untuk memadamkan huru hara orang Tionghoa selagi masih awal.
Sekalipun demikian menurut sementara penulis sejarah tak ada diantara para pelaku yang mempunyai demikian banyak kemauan dan pengetahuan di dalam dan mengenai pemberontakan orang-orang Tionghoa itu lebih dari pada Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier sendiri sebagai ketua dari Raad van Indie yang dalam persidangan2 lembaga tsb nyata jelas merupakan seorang musuh orang-orang Tionghoa.
Tidak heran jika pada tgl 6 Desember 1740 kita melihat bahwa Van Imhoff bersama dengan De Haze dan Van Schinne ketiganya anggota Raad van Indie dikenakan tahanan militer dan selanjutnya pada tgl 10 Januari 1741 dengan kapal istimewa telah dikirim ke negeri Belanda.
Tetapi khususnya mengenai Van Imhoff peristiwa yg menyedihkan itu tidak berlangsung lama dan juga belum apa-apa jika dibandingkan dengan nasib malang yang dialami oleh Adriaan Valckenier. Karena menjelang tahun 1741 Raad van Indie menerima surat perintah dari "Heeren Zeventien" pucuk pimpinan VOC di Negeri Belanda tertanggal 2 December 1740. Dalam surat perintah itu Heeren Zeventien" menyatakan menghentikan dengan hormat Gubenur Jenderal Adriaan Valckenier dari jabatannya dan selanjutnya sebagai penggantinya ditunjuk Van Imhoff yg pernah dikenakan tahanan militer dan musuh dari Adriaan Valckenier sendiri.
Pada tangjal 6 Nopember 1741 Adriaan Valckenier berangkat pulang ke Negeri Belanda. Namun pada tanggal 25 Januari 1742 ketika dia bersama armadanya baru saja sampai di cape town di Afrika Selatan tiba-tiba datang surat dari "Heeren Zeventien" yang berisi keputusan menghukumnya dan sehubungan dengan itu dia harus kembali ke Batavia. Karena kejahatan yang pernah dilakukannya akhir nya dia dijatuhi hukuman mati dan sekaligus dirampas segala harta benda yang dimilikinya.
Namun kasus perkara Adriaan Valckenier itu terkatung-katung sampai sembilan tahun lamanya hingga kematiannya pada tanggal 20 Juni 1751, yang telah membebaskannya dari segala duka sengsara yang dialaminya. Tanpa upacara dan penghormtan apapun juga jenazah bekas gubernur jenderal kompeni Belanda itu kemudian dimakamkan di Batavia.
Setelah Adriaan Valckenier diperberhentikan dari jabatannya sebagai gubernur jenderal kompeni Belanda ad interim muncul Johannes Thedens. Dia memerintah dari tahun 1741 sampai 1743, hingga kedatangan Gubernur Jenderal kompeni Belanda yang baru Gustaf Willem Baron van Imhoff yang memerintah dari tahun 1743-1750, dan seperti halnya dengan musuhnya. Adriaan Valckenier akhirnya meninggal dan dimakamkan di Batavia.
Namun lembaran sejarah tanah Jawa yang terkenal dengan nama De Chineezen moord itu tidak berakhir sampai disitu. Orang Tionghoa dari kota Batavia dan daerah sekitarnya yang telah kalah perang melarikan diri ke luar kota. Bersama dengan orang' Tionghoa dibeberapa tempat, mereka berusaha untuk menyusun kekuatan dan melawan kompeni Belanda.
Semarang sebagai Comppies hoofdresidentie op de Oostkust van Jawa" (istilah H Bosboom) - "Ibukota karesidenan kompeni di pantai utara pulau Jawa" sudah tentu tidak luput dari amukan badai pemberontakan orang Tionghoa itu. Apalagi orang Tionghoa di kota Semarang cukup banyak jumlahnya, di samping bupati Semarang sendiri pada waktu itu adalah Setra Wijaya seorang tumenggung perana kan Tionghoa dari daerah Gumulak. Semarang menjadi palagan pemberontakan Tionghoa yang hebat dan mengerikan.
Banyak pihak telah menjadi pelaku pembunuhan secara keji ter hadap orang-orang Tionghoa di Batavia dalam bulan October 1740 itu. Pembunuhan itu dilakukan oleh para pelaut para serdadu dan para pegawai kompeni para penduduk merdeka dan para budak belian serta penduduk Eropah yang bertempat tinggal di Batavia.
Di samping itu fakta-fakta juga menunjukkan bahwa semua anggauta Raad van Indie alias Dewan Hindia juga telah ikut bersalah oleh karena ucapan dan perdebatan mereka dalam persidangan lembaga pemerintahan kompeni Belanda itu di samping telah lalai untuk memadamkan huru hara orang Tionghoa selagi masih awal.
Sekalipun demikian menurut sementara penulis sejarah tak ada diantara para pelaku yang mempunyai demikian banyak kemauan dan pengetahuan di dalam dan mengenai pemberontakan orang-orang Tionghoa itu lebih dari pada Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier sendiri sebagai ketua dari Raad van Indie yang dalam persidangan2 lembaga tsb nyata jelas merupakan seorang musuh orang-orang Tionghoa.
Tidak heran jika pada tgl 6 Desember 1740 kita melihat bahwa Van Imhoff bersama dengan De Haze dan Van Schinne ketiganya anggota Raad van Indie dikenakan tahanan militer dan selanjutnya pada tgl 10 Januari 1741 dengan kapal istimewa telah dikirim ke negeri Belanda.
Tetapi khususnya mengenai Van Imhoff peristiwa yg menyedihkan itu tidak berlangsung lama dan juga belum apa-apa jika dibandingkan dengan nasib malang yang dialami oleh Adriaan Valckenier. Karena menjelang tahun 1741 Raad van Indie menerima surat perintah dari "Heeren Zeventien" pucuk pimpinan VOC di Negeri Belanda tertanggal 2 December 1740. Dalam surat perintah itu Heeren Zeventien" menyatakan menghentikan dengan hormat Gubenur Jenderal Adriaan Valckenier dari jabatannya dan selanjutnya sebagai penggantinya ditunjuk Van Imhoff yg pernah dikenakan tahanan militer dan musuh dari Adriaan Valckenier sendiri.
Pada tangjal 6 Nopember 1741 Adriaan Valckenier berangkat pulang ke Negeri Belanda. Namun pada tanggal 25 Januari 1742 ketika dia bersama armadanya baru saja sampai di cape town di Afrika Selatan tiba-tiba datang surat dari "Heeren Zeventien" yang berisi keputusan menghukumnya dan sehubungan dengan itu dia harus kembali ke Batavia. Karena kejahatan yang pernah dilakukannya akhir nya dia dijatuhi hukuman mati dan sekaligus dirampas segala harta benda yang dimilikinya.
Namun kasus perkara Adriaan Valckenier itu terkatung-katung sampai sembilan tahun lamanya hingga kematiannya pada tanggal 20 Juni 1751, yang telah membebaskannya dari segala duka sengsara yang dialaminya. Tanpa upacara dan penghormtan apapun juga jenazah bekas gubernur jenderal kompeni Belanda itu kemudian dimakamkan di Batavia.
Setelah Adriaan Valckenier diperberhentikan dari jabatannya sebagai gubernur jenderal kompeni Belanda ad interim muncul Johannes Thedens. Dia memerintah dari tahun 1741 sampai 1743, hingga kedatangan Gubernur Jenderal kompeni Belanda yang baru Gustaf Willem Baron van Imhoff yang memerintah dari tahun 1743-1750, dan seperti halnya dengan musuhnya. Adriaan Valckenier akhirnya meninggal dan dimakamkan di Batavia.
Namun lembaran sejarah tanah Jawa yang terkenal dengan nama De Chineezen moord itu tidak berakhir sampai disitu. Orang Tionghoa dari kota Batavia dan daerah sekitarnya yang telah kalah perang melarikan diri ke luar kota. Bersama dengan orang' Tionghoa dibeberapa tempat, mereka berusaha untuk menyusun kekuatan dan melawan kompeni Belanda.
Semarang sebagai Comppies hoofdresidentie op de Oostkust van Jawa" (istilah H Bosboom) - "Ibukota karesidenan kompeni di pantai utara pulau Jawa" sudah tentu tidak luput dari amukan badai pemberontakan orang Tionghoa itu. Apalagi orang Tionghoa di kota Semarang cukup banyak jumlahnya, di samping bupati Semarang sendiri pada waktu itu adalah Setra Wijaya seorang tumenggung perana kan Tionghoa dari daerah Gumulak. Semarang menjadi palagan pemberontakan Tionghoa yang hebat dan mengerikan.
De heren Zeventien
No comments:
Post a Comment