Tuesday, February 10, 2015

Pulau Jawa Jatuh ke tangan VOC Belanda

Nama Sunan Kuning mulai muncul dalam panggung peristiwa sejarah Indonesia  ketika  di Jawa Tengah berkobar pemberontakan orang-orang Tionghoa. Para pemberontak Tionghoa tersebut berusaha untuk mengadakan hubungan dengan kraton Kartasura. Waktu itu yang menjadi raja di Kartasura ialah Sunan Paku Buwono II. Usaha para pemberontak itu memang tidak sia-sia. Kanjeng Sunan Paku Buwono II ternyata bersedia memberikan bantuannya, termasuk diantara nya memberikan meriam yg menjadi pusaka kraton Kartasura, yang waktu itu sangat diincar oleh bala tentara  Tionghoa dari Semarang, guna menyerang bala tentara kompeni Belanda. di   Kartasoera, pasukan Tionghoa bersekutu dengan sunan. Orang Tionghoa memohon meriam keradjaan di Kartasoera.

Semua tersurat dalam "Syair Kompeni Walanda Berperang Dengan Tionghoa". Untuk menghadapi huru hara di Kartasura. kompeni Belanda kemudian mengi rimkan bala bantuan dari Semarang. Kedatangan bala bantuan itu berhasil membangkitkan semangat dan keberanian bala tentara kompeni Belanda yang ada di Kartasura.

Suasana di Kartasura kian lama kian panas. Kebencian terhadap orang Belanda akhirnya meledak dalam bentuk serangan masal ke tempat pertahanan orang orang kompeni. Tepat pada tgl 10 Juli 1741 tempat penjagaan utama telah jatuh. Di Kartasura terjadi peperangan sangat hebat. Karena dari Semarang Belanda tidak lagi dapat mendatangkan, bala bantuan, akhirnya benteng Kartasura jatuh. Pemberontakan meluas di Jawa termasuk didaerah pesisir utara pulau Jawa.

Kompeni Belanda waktu itu memang menghadapi keadaan yang benar-banar gawat. Karena itu mereka merasa beruntung dalam masa yang kritis itu ternyata mereka  berhasil  mendapatkan kawan. Sekutu kompeni Belanda itu tidak lain ialah Pangeran Cakraningrat IV dari daerah Sampang Madura. Pada waktu itu Pangeran Cakraningrat  menginginkan berdirinya suatu kerajaan Madura yang besar. Karena itu dia mau melepaskan diri dari belenggu Mataram. Gresik, Tuban  dan  Lamongan. Daerah-daerah Mataram di Jawa Timur satu persatu berhasil direbutnya. Kompeni Belanda  sudah tentu tidak menyukai perbuatan itu. Namun karena membutuhkan bantuan  Pangeran Cakraningrat,  mereka  terpaksa bekerja sama dengan pangeran Cakraningrat IV.
 

Namun perjalanan sejarah memang sukar ditebak. Bahkan sering meleset dari perkiraaan. Demikian juga mengenai huru hara di Kartasura. Sadar menyaksikan kekuatan kompeni Belanda,.Kanjeng Sunan Paku Buwona II akhirnya  mengambil  keputusan untuk  membelot mendekati lagi kompeni Belanda.

Peristiwa membelotnya Kanjeng Sunan tersebut barang tentu sangat menyakitkan hati para pemberontak Tionghoa. Mereka segera mengangkat Mas Gerendi cucu dari  Sunan Mas menjadi sunan tandingan yang selama dalam perjalanannya mendapat sebutan Sunan Kuning.

Bersama-sama dengan para pemberontak, Sunan Kuning berhasil menyerang Kartasura. Peristiwa itu terjadi pada tgl. 30 Juni 1742. Hari itu juga mereka berhasil membakar kraton Kartasura. Sunan Paku Buwono II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo diikuti oleh para pelarian kompeni. Di tempat pengasingan ini Kanjeng Sunan merasa putus asa.untuk dapat menduduki kembali takhta singgasana di Kartasura. Di tempat itu akhirnya dia berjanji, sekiranya kompeni Belanda berhasil membantunya hingga dia dapat menduduki takhtanya kembali, mereka akan diberi hadiah daerah pesisir.
 
Sementara itu Kompeni Belanda beruntung.karena di kalangan para pemberontak ternyata telah terjadi perpecahan. Para bupati di daerah pesisir berbalik membantu Kanjeng Sunan Paku Buwono II. Sementara itu Pangeran Cakraningrat di bulan Desember 1742 berhasil merebut kembali Kartasura dan atas bujukan Reiner de Klerk (waktu itu kepala penjabat kompeni di Surabaya) akhirnya bersedia pula mengembalikannya pada Kanjeng Sunan Paku Buwono II.

Demikianlah, tepat pada tgl. 24 Desember 1742 dengan bantuan kompeni Belanda Sunan Paku Buwono II berhasil kembali lagi ke keratonnya. Sebaliknya Mas Garendi alias Sunan Kuning akhirnya terpaksa menyerah padn Reiner de Klerk di Surabaya , dan seperti halnya dengan kakeknya kemudian dibuang ke Ceilon.
Tidak lama setelah memulai hidup barunya, Kanjeng Sunan Paku Buwono II memutuskan untuk membuat kraton baru di tepi Bengawan Solo ibukota kerajaan Mataram yang baru itu kemudian diberinya nama Surakarta.

Kompeni Belanda kemudian membuat suatu perjanjian baru dengan Sunan Paku Buwono II ditanda tangani pada tgl 11 Nopember 1743 Dengan perjanjian itu kompeni Belanda berhasil mendapatkan banyak daerah. Daerah Rembang dan Jepara misalnya, lengkap beserta hutan2 jatinya, dengan, perjanjian itu, jatuh ke tangan kompeni. Demikian juga banyak daerah yang lain di Jawa Barat dan Jawa Timur. yang membentang berbatasan di sebelah barat dengan Cilosari dan, di sebelah timur dengan Pasuruan.

Dalam perjanjian itu juga disebutkan suatu klausal di mana Sunan melepaskan segala tuntutannya atas daerah-daerah Semarang, Kaligawe, Terboyo dan Gumulak, termasuk segala pendapatan yg berasal dari daerah-daerah pelabuhan itu. Kanjeng Sunan juga diharuskan  untuk membiayai semua pos-pos kompeni yang didlrikan di tempat-tempat antara Semarang dan Kartasura. Dalam perjanjian itu juga disebutkan bahwa para patih, para bupati dan para pegawai Kanjeng Sunan di daerah pesisir, sebelum menjabat harus bersumpah setia dulu pada  komandan  kompeni Belanda di Semarang.

Memang, perjanjian tgl 11 Nopember1743 itu memang merupakan suatu perjanjian yang sangat berat bagi kerajaan Mataram. Menurut ahli sejarah Lekkerkerker Perjanjian itu telah membuat kompeni Belanda menjadi seorang tuan yang memberi piutang dan sebalik nya telah membuat Kanjeng Sunan Paku Buwono II sebagai orang berutang. Karena perjanjian itu kerajaan Mataram praktis menjadi setengah jajahan dari kompeni Belanda.

Sebaliknya bagi kota Semarang, perjanjian tgl. 11 Nopember 1743 tersebut mempunyai   arti yang sangat penting. Dengan perjanjian itu, terlebih lagi dengan adanya suatu pasal di mana para patih. para bupati dan para pegawai Kanjeng Sunan di daerah pesisir, sebelum menjalankan jabatannya harus bersumpah setia dulu pada komandan  kompeni Belanda di Semarang, kota Semarang kian jauh dari percaturan sejarah   tanah Jawa. Dari segi politik Semarang kian menunjukkan kedudukannya sebagai satu-satunya kota yang  paling penting di pesisir utara  pulau  Jawa setelah Batavia.

Cakraningrat

No comments:

Post a Comment