Showing posts with label Kota Baru. Show all posts
Showing posts with label Kota Baru. Show all posts

Wednesday, February 11, 2015

Lambang Semarang Tempo Doeloe

Pada tahun 1830 an kota Semarang juga sudah memiliki sebuah lambang kota, yang terdiri dari sebuah bidang dengan dasar warna biru lazuardi, di tengah lambang itu kita dapat melihat lukisan seorang anak perawan yang terbuat dari perak dengan kepala mengunakan sebuah tiara, terbuat dari kayu jati dan dedaunan semacam daun salam, sementara tangan kanannya nampak memegang kepala seekor singa yang terbuat dari emas, yang pada kakinya nampak memegang 19 buah anak panah. Adapun tangan kiri dari anak perawan itu juga nampak jelas memegang sebuah jangkar.

Di samping itu juga terdapat sebuah legenda berbunyi: "Semarang er onder geplaats" sementara pada bagian atasnya nampak jelas pula sebuah tiara terdiri dari lima buah pintu gerbang benteng.

Yang terakhir ini benar-benar menarik perhatian kita dan mengingatkan kita pada benteng kuno yang pernah mengeliling kota Semarang terbuat dari batu bahkan menurut van Swieten "van pallissaden met planken wals gewijze bezet waren" - /bertatahkan pallisade dengan dinding yang terbuat dari papan".

Yang dimaksud dengan "pailisade" atau "cerucuk"' ialah tiang-tiang yang lancip dan tebal, di mana sejumlah dari padanya dengan sengaja telah dibuat berjajar rapat, digunakan untuk keperluan perlindungan.

Nah. apakah tiara yg dapat kita lihat berada sebagai mahkota lambang kuno kota Semarang itu tidak di maksudkan, sebagai memori peringatan terhadap pernah adanya benteng kuno yang pernah mengelilingi kota Semarang: "van pallissaden met planken wals gewijze, bezet. waren" sebagaimana dikemukakan oleh van Swieten? Pertanyaan semacam itu, sekalipun sangat menarik, sudah terang tidak bisa dijawab dengan pasti.

Dari karya D, Rhul Jr "De Nederlandsche Gemeen tewapens. Geschiedenis. legende en besluiten" (1934) kita hanya dapat mengetahui bahwa lambang kuno kota Semarang itu ternyata mempunyai latar belakang sejarah yang cukup unik, yaitu bahwa lambang tersebut telah dipersembahkan oleh Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies sebagai kenangan atas kesetiaan, pengabdian dan kepahlawanan pasukan-pasukan dan para sukarelawan dari Semarang dalam Perang Diponegoro (1825— 1830) yang telah berulang kali menunjukkan keperwiraan mereka - diantaranya seperti yang terjadi pada bulan September 1825. dimana dari 20 orang sukarelawan yang berkuda ternyata 12 orang telah menemui ajalnya.

Hal itu dilakukan dengan suatu besluit yang dikeluar kan pada tgl. 29 Mei 1827 Nr. 20. Dan dengan sedikit perubahan lambang kuno kota Semarang itu masih terus dipakai hingga berakhirnya masa penjajahan Belanda di Nusantara.
Lanbang Kota Semarang

Nama Baru di Pecinan


 Tang Kee (Gang Pinggir)

Sekitar tahun 1830 di kota Semarang juga sudah terdapat sebuah rumah sakit. Letaknya sekarang ini berada di kompleks gedung susteran Gedangan. Rumah sakit itu kemudian dibeli oleh missi Katholik, dan sebagai gedung rumah sakit yg baru kemudian digunakan gedung bekas sekolah militer Semarang, terkenal dengan nama Militer Hospital artinya Rumah Sakit Militer yang sekalipun namanya Rumah Sakit Militer namun ternyata dalam prakteknya juga menerima pasien dari orang partikelir baik yang bertempat tinggal di kota Semarang maupun di daerah daerah sekitarnya.

Sementara itu tempat-tempat pemukiman yang terletak di luar kota Semarang (buiten wijken) kian lama juga kian nampak berkembang. Daerah Poncol sebelah selatan yang membentang antara Gendingan dengan jalan Tanjung misalnya demikian juga daerah Belakang Kebon Depok, daerah Bojong sebelah barat mesjid besar Semarang, daerah Plampitan dan Wotgandul Selatan, kampung Melayu dan Pindrikan begitu pula daerah Peloran sebelah barat terutama daerah Baterman dan Kelengan pada waktu itu sudah merupakan tempat pemukiman.

Khusus mengenai daerah yang terakhir ini. pada waktu itu kita bahkan mencatat suatu peristiwa yang tidak kurang pentingnya bagi sejarah kota Semarang, yaitu bahwa pada waktu itu ternyata jalan-jalan dan daerah-daearah yang terletak di tempat tersebut telah banyak yang diganti namanya, dari nama-nama. Tionghoa menjadi nama-nama Melayu. Demikianlah misalnya daerah Pecinan Utara yang pada masa sebelumnya dise but Along-kee telah diganti namanya menjadi Gang Warung. Sin-kee menjadi Gang Baru. Hoay-kee menjadi Gang Cilik dan Ting-auw-kee menjadi Gang Gambiran mengingat pada waktu itu di tempat itu memang ada gudang gambir (Liem Thiam Yoe, Opcit)

Sudah barang tentu perubahan nama itu tidak bisa berjalan dengan cepat dan lancar. Seperti halnya orang sekarang, pada masa itupun ternyata orang tidak begitu mudah melepaskan nama-nama tempat yang lama, yang telah terlanjur populer. Tidak heran jika seperti halnya pada masa sekarang, pada waktu itu kita juga menjumpai kenyataan bahwa untuk jangka waktu yang cukup lama, di samping menyebut nama jalan atau “wijk" yang baru untuk memudahkan diri orang juga masih perlu untuk menyebut nama jalan atau "wijk'' yang lama sekaligus.

Hal itu dengan jelas misalnya dapat kita lihat dalam iklan-iklan yang termuat dalam harian "De Locomotief" pada kira-kira tahun 1860-an. Seperti misalnya sebuah iklan yang dapat kita jumpai terpasang pada hari Senin tgl 29 Augustus 1864 yang  mengabarkan mengenai bakal dilelangnya: "Een erf bebouwd met een Steenen Huis met Pannen gedekt gelegen in de Chineesche Kamp te Samarang aan de Oostzijde van den starrt Saijkee of Passaar.-Baroe, Wijk la N. NO. 822". "Sebidang tanah yang telah dibangun dengan sebuah Rumah Batu, terletak di Pecinan Semarang di sebelah timur dari jalan Saijkce atau Passaar-Baroe, -Wijk la N. NO.882". Dari iklan itu jelas sekali bahwa untuk memudahkan diri, di samping nama yang baru Passaar-Baroe.-orang masih perlu menyebutkan sekaligus Saijkee sebagai nama yang lama.

Kadet

Tentang sekolah militer Semarang ini kita merasa beruntung bisa mendapatkan bahan-bahan yang lumayan dalam sumber-sumber sejarah Belanda. Dari sumber-sumber itu dapat kita ketahui diantaranya bahwa sekolah militer Semarang itu ternyata telah didirikan dengan suatu besluit dari para komisaris Jendral yang pada waktu itu merupakan suatu majelis yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan Belanda di Nusantara. Besluit itu tercantum dalam Staatsblad tahun 1818 Nr. 13 dan 17
 
Adapum maksudnya pendirian ialah untuk para pemuda agar bisa menjadi perwira dan pasukan yang ada di Hindia Belanda, selanjutnya menjadi perwira dari angkatan laut, sebagai petugas dari jawatan pengairan dan pengukur tanah . Ketika pertama kali dibuka pada tgl 10 Agustus 1818, sekolah itu mempunyai 73 orang murid yang uniknya kecuali menerima pelajaran dari berbagai macam, juga menerima pelajaran dalam bahasa Jawa dan Melayu yang untuk keperluan tersebut dengan  sengaja  telah diangkat  dua  orang  guru khusus.

Diantara 93 orang murid yang pernah bersekolah  di tempat itu,menurut catatan ternyata 67 orang dari pada nya telah berhasil menjadi perwira, sementara tiga orang bahkan telah bisa  mencapai pangkat yang sangat tinggi: menjadi "Generaal Majoor" (Tijdschrift van Nederlamlsch Indie, 1880).
Sayang, karena alasan "penghematan keuangan" semenjak tahun 1825 sekolah militer itu telah menyatakan diri tidak menerima lagi murid baru dan dengan Staatsblad tahun 1826 Nr 41 dinyatakan bahwa sekolah militer Semarang tsb, terhitung mulai dari tgl 1 September 1826 telah dihapuskan dan tempatnya digunakan untuk memberi pelajaran bahasa Jawa dan Melayu.

Ada suatu episode yang menarik yang saya kira perlu dicatat mengenai sekolah militer Semarang itu, yakni bahwa sekolah kejuruan tersebut ternyata tidak bisa dilepaskan  dari sejarah lahirnya perkataan "kadet", suatu perkataan yang khas Semarangan itu.

Menurut keterangan yang dapat kita jumpai dalam buku Liem Thian Yoe "Riwayat Semarang" (1931 - 1933) perkataan "kadet “ yg terkenal itu sebenarnya ada kaitannya dengan riwayat sekolah marine yang pernah didirikan di Semarang, yakni di jalan. Perkutut, tidak Jauh dari kantor pabrik rokok "Prau Layar". Keterangan semacam itu sebenarnya merupakan suatu kekhilafan, karena seperti ternyata dari sebuah artikel yang termuat dalam "Algemeen Handelsblad van Ned. Indie" yang terbit pada tahun 1931 perkataan "kadet" yang sangat masyhur dan benar-benar "aseli" Semarang itu sebenarnya justru tidak ada hubugannya dengan riwayat sekolah marine, melainkan sebaliknya justru erat sekali kaitannya dengan riwayat sekolah militer Semarang.

Awal mula kelahiran per kataan "kadet" itu ialah demikian: Pada waktu itu para kadet (pelajar) dari sekolah militer tersebut kalau pergi ke pasar atau ke warung-warung yang ada di dekat sekolah. Mereka sering makan tanpa bayar. Karena kebiasaan tersebut, para pedagang yang ada di pasar itu lalu berusaha untuk mengadakan seorang penjaga dengan tugas memberi tahu kepada mereka kapan para kadet dari sekolah militer itu datang. Demikian lah tiap kadet-kadet itu datang ke pasar, penjaga itu lalu memberi kode dengan mengatakan "kadet-kadet", hingga para pedagang itu dengan cepat bisa mengemasi dan menyimpan barang-barang dagangannya. Semenjak saat itu dan dengan kejadian itu perkataan “kadet" akhirnya menjadi suatu perkataan yang sangat populer dan memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia di Se marang digunakan dalam arti khusus yang sangat menyimpang dari arti aselinya, yakni sebagai "tukang ngemplang''.

Pabrik Rokok Prau Layar

Paradeplein

  Parade Plein

Di samping telah memiliki gedung Balai Kota, perlu juga dicatat bahwa pada masa itu hingga sekitar tahun 1830 di dalam kota Semarang juga sudah terdapat dua buah gereja. Yaitu sebuah gereja Protestan - gereja Imanuel alias gereja Blenduk dan yang sebuah lagi gereja Katholik yang pada masa itu masih menempati sebuah rumah tempat kediaman biasa yang terletak di jalan Raden Patah. tidak jauh dari gereja Blenduk.. Menurut penuturan A.H Pias gedung gereja Katolik itu ternyata telah dijadikan  toko pada tahun 1894 dan terbakar disambar api, tidak ubahnya dg nasib yang pernah dialami oleh Balai Kota Semarang yang lama (Plas A, H. Van t oude Semarang en t verjongde Semarang. Termuat dalam majalah Eigen Haard 1911).
 
Pada masa itu baik gereja Protestan "Imanuel" mau pun gereja Katholik yang pertama di kota Semarang itu sama-sama terletak di suatu kawasan yang pada masanya disebut “Paradeplein” artinya “Lapangan Parade” suatu nama yang masih terus dipergunakan hingga masa-masa terakhir tempo doeloe.

Sesuai dengan namanya. tempat itu pada zaman kompeni memang dipergunakan sebagai tempat untuk mengadakan parade dan nama ini seperti halnya dengan nama-nama Westerwalstraat, Zuiderwalstraat. Oosterwalstraat dan Noorderwalstraat, jelas menunjukkan pula bhw pada waktu itu daerah yang dinamakan  "kota Semarang" sebenarnya dulunya merupakan suatu "vesting", yakni satu tempat kediaman yang diperkuat atau suatu benteng (Swieten, Th. van Wande link door Semarang. Artikel termuat dalam majalah Berichten St, Claverbond 1901).

Dari "Paradeplein" baik-lah kita menuju ke jalan Mpu Tantular, khususnya menuju ke bagian dari jalan itu yang merentang mulai dari simpang tiga jalan Mpu Tantular dan jalan. Sleko menuju ke jalan. Kebon Laut. Di tempat itu sekarang ini kita masih dapat menyaksikan suatu bangunan yang cukup besar ditempati oleh Direktorat Jendral Kehutanan - Direktorat Perlindungan Dan Pengawetan Alam Semarang serta P.K.P.N. Kota Semarang. Melihat bentuknya gedung itu sepintas lalu memberi kesan bahwa dulunya merupakan sebuah bekas gedung sekolah. Dugaan semacam itu memang benar. Menurut berkas-berkas lama, gedung itu dulunya memang merupakan sebuah gedung sekolah bagi anak Belanda, bahkan merupakan gedung sekolah pertama bagi anak orang Belanda di Semarang. didirikan pada tahun 1823.

Tidak jauh dari sekolah umum bagi anak-anak Belanda itu, tepatnya di seberang utara dari kantor pos Semarang, atau lebih tepatnya lagi di kompleks kantor inspeksi pajak Semarang, pada isyarat itupun sebenarnya kita juga masih bisa menjumpai suatu tempat pendidikan lagi. Hanya saja bukan merupakan sebuah sekolah umum melainkan sebuah sekolah kedinasan, yakni sekolah militer.

Gedung kantor inspeksi keuangan Semarang yang lama sebenarnya adalah gedung bekas gedung sekolah militer tersebut. Sebelum ditempati oleh sekolah militer itu, gedung itu sendiri merupakan gedung tempat tinggal yang resmi dari gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa, yang seperti telah kita ketahui pada masanya telah diberi nama "abhiseka" yang sangat indah, yakni "De Vrijheid" alias "Istana Merdeka". Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sejak awal abad ke-19, gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa menempati sebuah istana baru yang terletak di akhir jalan Bojong, yang seperti telah kita singgung di muka dinamakan "Vredestein" alias "Istana Merdeka". Karena kepindahan itu, bekas tempat kediaman yang lama kemudian dipergunakan sebagai sekolah, yakni sekolah militer tersebut di atas.

Gedung Papak dan Be Soe Ie

Mengenai sejarah Balai Kota Semarang itu dapat dikatakan bahwa Balai Kota Semarang itu sebenarnya sudah lama didirikan. Sudah ada semenjak tahun 1787. Pada tahun 1804 atau 1805 gedungnya diganti dengan gedung yang baru. Sayang gedung Balai Kota Semarang yg baru itu pada tgl 4 Oktober 1850 atau 1851 telah terbakar disambar api (Boeboom H. Nota Bij Semarang's Oude Kaarten 1904). Dari mana datangnya api itu tidak diketahui. Yang pasti kebakaran itu menelan musnah banyak arsip-arsip kuno yang sebenarnya sangat penting artinya bagi sejarah kota Semarang. Karena kebakaran itu banyak bagian dari sejarah kuno kota Semarang terutama dari periode zaman kompeni hingga sekarang masih gelap dan bukan mustahil akan tetap dan merupakan terra incognita selama-lamanya

Menurut H. F.Tillema dalam  bukunya yg sangat terkenal "Kromo blanda, Over  vraagstuk van  "het wonen" in Kromo's groote land" jilid V”, sebelum terbakar sebenarnya Balai Kota Semarang tersebut merupakan suatu bangunan yang boleh dikatakan "adiluhung dan "merak ati" - een eerwaar dig gebouw - di mana bagian dalamnya dipergunakan sebagai tempat penjara sementara bagian atasnya telah dipergunakan sebagai tempat untuk urusan pengadilan dan kepolisian.

Tiga tahun setelah Balai Kota Semarang itu terbakar kira-kira pada tahun 1853 atau 1854 kita melihat adanya usaha-usaha untuk membangun sebuah gedung Balai Kota Semarang yang baru, yang terletak di seberang barat dari Jembatan Mberok, di mana sekarang berdiri kantor KBN. Setelah selesai, gedung Balai Kota Semarang yang baru itu ternyata merupakan suatu bangunan yang sangat luas dan berbentuk segi empat, jauh lebih indah dari gedung Balai Kota yang lama.

Pada waktu itu masyarakat umum menyebut gedung Balai Kota Semarang yang baru itu "De Groote Huis" alias "Istana Agung”. Namun mengingat gedung tersebut, sebenarnya adalah gedung "kantor" Residen, gedung itu oleh khalayak ramai juga lazim disebut se bagai "residentie kantoor" atau "kantor keresidenan". Masyarakat Semarang sendiri lebih suka menyebutnya "Gedong Papak" karena bentuknya memang “papak", dan sebutan itu terus dipakai lama sekali hingga masa kemerdekaan, bahkan lebih tepatnya lagi hingga gedung itu musnah terbakar disambar api pada tangal 30 Nopember 1954 jam 01:15 malam.

Menurut Liem Thian Yoe pada tahun 1877 di Pecinan Semarang pernah hidup seorang "pach ter gade" Tionghoa bernama Be Soe Ie. Pada waktu itu dia telah merombak tempat tinggalnya yang pada waktu itu sekaligus juga telah di gunakan olehnya sebagai rumah gadai, menjadi suatu bangunan "dibikin zonder woewoengan" Jadi bagian atasnya dibuatnya rata, untuk digunakan sebagai tempat penjemuran barang-barang yang telah digadaikan orang ke padanya, dengan harapan “soepaya gampang bikin penilikan dan tiada gampang ilang seperti kapan didje moer ditanah". Oleh para  penduduk pada waktu itu rumah"pacter gade" itu lalu disebut "gedong papak."

Tetapi, penguasa di Semarang rupanya tidak senang pada perbuatan Be Soe Ie tersebut. Selang beberapa bulan setelah bangunan itu selesai didirikan, rumah gedung besar yang terletak di Gang Pinggir mau tidak mau harus dirombak karena dianggap meniru gedong negeri atau kantor besar (residentie kantoor). Selain itu itu menurut Liem Thian Yoe, rumah itu selanjutnya di robohkan dan diganti dengan bangunan yang memiliki wuwungan. Sementara Be Soe Ie sendiri  kemudian telah didenda sebagai pelanggaran karena meniru gedong negri".

Gedung Papak

Istana Perdamaian

Kita telah membicarakan mengenai pembongkaran dinding kuno kota Semarang yang dilakukan  oleh para penguasa. Belanda di kota Semarang pada tahun 1824. Juga telah kita bicarakan mengenai wajah baru kota Semarang yang muncul tidak begitu lama setelah pembongkaran dinding kuno yang sangat penting artinya bagi sejarah kota Semarang itu.

Di samping itu juga telah kita bicarakan bahwa pada waktu itu ternyata kota Semarang masih merupakan suatu istilah yang mempunyai pengertian khusus dimaksudkan untuk menyebut sepesial daerah tempat tinggal orang Belanda saja yang pada waktu itu terletak di seberang timur dari jembatan Mberok. Adapun daerah-daerah lain yang terletak di luar tempat tinggal orang-orang Belanda itu, sekalipun letaknya sangat berdekatan dengan tempat pemukiman itu misalnya Alun-alun, pada waktu itu secara  resmi masih harus disebut  sebagai daerah yang terletak di luar kota Semarang alias ”buitenwijken”. Jadi persis tidak ubahnya dengan keadaan pada zaman kompeni dahulu.

Sekarang baiklah kita lanjutkan dengan rnembicarakan bagaimana keadaan kota Semarang dan beberapa daerah di sekitarnya pada waktu itu hingga kira-kira sekitar tahun 1830-an. Pada waktu itu Semarang sudah tidak lagi menjadi tempat  kedudukan dari seorang gubernur jenderal. Semenjak akhir masa penjajahan Inggris jadi semenjak tahun 1816 jabatan gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa yang pada masa sebelumnya pernah dikenal dan berkedudukan di Semarang telah dihapuskan. Sebagai gantinya di Semarang kemudian ditempatkan seorang residen (De Groote' Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, hal 1102).

Sebagai tempat kedudukannya pada waktu itu residen Semarang tidak menempati suatu bangunan yang terletak di dalam kota Semarang melainkan justru menempati suatu istana besar yang terletak di akhir jalan. Bojong jadi bertempat tinggal di suatu kawasan yang terletak di daerah luar kota Semarang alias ''buitenwijken" yang sebelumnya pernah di gunakan sebagai tempat ke diaman resmi dari gubernur jenderal pantai utara dan timur pulau Jawa, kemudian menjadi APDN dan kemudian menjadi rumah dinas Gubernur.

Sebagai tempat kediaman resmi residen Semarang pada waktu itu tempat tersebut masih terkenal dengan nama abhiseka lama yang diberikan ketika tempat  itu diresmikan menjadi tempat kediaman resmi dari gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa yakni Vredestein alias Istana Perdamaian.

Pada waktu itu kota Semarang juga sudah mempunyai sebuah Balai Kota atau istilahnya pada waktu itu 'Stadhuis'. Letaknya sekarang berada di jalan. Branjangan di tempat di mana pernah berdiri kantor percetakan PT. Karya Nusantara.

Istana Perdamaian

Kota Baru Semarang


 Benteng Kota Semarang

Sejak zaman kompeni orang-orang Belanda di Semarang sebenarnya telah bertempat tinggal di suatu kawasan yang terletak di seberang timur dari jembatan Mberok yang pada masa itu dikelilingi oleh sebuah pagar yang berbentuk segi enam, terbuat dari cerucuk dengan pagar dinding yang terbuat dari papan (Swieten. Th. van.Wandeling door Semarang. Berichten St. Claverbond. 1901).
 
Dari sebuah peta kuno yang tersimpan dalam Rijks-archiefs Gravenhage Nederland dapat kita ketahui bahwa tembok keliling itu ternyata cukup panjang juga alur rentangannya, mulai dari Jalan. Mpu Tantular yang terletak di sebelah kanan dari Jembatan Mberok ke arah Utara menuju ke arah Jalan Kebon Laut, kemudian belok ke JaIan. Merak terus ke arah Timur, selanjutnya belok ke arah Selatan terus ke JaIan. Cendrawasih. kemudian berputar ke arah Barat membentang sejajar dengan garis lurus menyusuri Jalan Kepodang dan akhirnya belok lagi ke arah utara bersepanjang dengan JaIan Mpu Tantular.
 
Di sebelah luar dari tembok keliling itu kita jumpai parit yang dengan sengaja telah dibuat mengelilingi pagar tersebut dan pada waktu itu lazim dinamakan parit dinding sebelah utara, parit dinding sebelah timur, parit dinding sebelah selatan dan parit dinding sebelah Barat (Swieten Th. van. op-cit).
 
Pagar keliling itu juga. mempunyai tiga buah pintu gerbang besar yang harus di lalui oleh mereka yang ingin memasuki tempat pemukiman orang-orang Belanda yang pada waktu itu dinamakan pintu gerbang gupernemen (Gouverncmentspoort), pintu gerbang sebelah selatan dan pintu gerbang sebelah timur. Menurut van Heuven, pada waktu itu pintu gerbang yang secara resmi dinamakan pintu gerbang gupernemen tersebut letaknya berada di sebelah barat dari jembatan Mberok yang pada masa itu dinamakan “Gouvernemenantsbrug” alias jembatan gupernemen. Sedangkan pintu gerbang sebelah selatan-nya terletak kira-kira di jalan lintasan kercta api pada awal jln. Pekojan   jadi sekarang ini kira2 terletak tidak be-gitu jauh dari Panin Bank, — sementara pintu gerbang sebelah Timurnya terletak di akhir Jalan. Raden Patah di Jalan. Karang Bidara (Heuven. G. B. J. van.lets over oud.Semarang. Indische Gids. 1932).
 
Di samping itu, tembok keliling tempat kediaman orang-orang Belanda itu juga masih mempunyai lima buah pos penjagaan, yakni pos penjagaan laut atau de Zee-punt yang terletak tidak jauh dari sebelah barat Tawang, pos penjagaan Smids yang terletak di kali dekat Boom lama, pos penjagaan De Liere yang paling jauh terletak di bekas kantor pos Semarang yang pertama (di dekat ujung Jalan. Kepodang), pos penjagaan Amsterdam yang terletak di sebelah Timur dari stasiun Sentral dan akhirnya pos penjagaan De Hersteller yang terletak di siku jalan antara Jalan. Ronggowarsito dan Tawang.
 
Pada waktu itu yang dinamakan kota Semarang tidak lain ialah tempat kediaman orang Belanda yang berada di dalam lingkungan tembok keliling itu. sedangkan daerah-daerah lain yang terletak di sebelah luarnya, misalnya Alun-alun Kauman dan Pecinan, pada waktu itu secara resmi disebut daerah yang terletak di luar kota Semarang.
 
Jadi pada masa itu apa yang dinamakan kota Semarang merupakan sebuah kota yang memiliki tembok keliling, tidak ubahnya dengan kota Tuban dalam abad 14 atau 15, yang tercatat juga pernah memiliki tembok dinding yang semacam itu, yang terbuat dari batu dan menurut penuturan orang-orang Rembang konon telah dibangun oleh seorang  waliullah yang bernama Sunan Pejagung, seorang kerabat dari Sunan Bonang (Schrieke.B.J.O. Het Boek van Bonang.1916). Sayang seperti halnya kota Tuban. akhirnya Semarang telah kehilangan pagar antiknya.
 
Pada tahun 1824. jadi dua tahun sebelum Semarang di goncangkan oleh geger Diponegoran, benteng semarang itu lengkap beserta pos-pos penjagaannya dan pintu-pintu gerbangnya ternyata telah dibongkar oleh penguasa Belanda, dimusnahkan dan dihancurkan sama sekali, hingga pada pertengahan abad ke-19 orang tidak bisa lagi menemukan bekasnya. Demikian lebih kurang pernah dikata kan oleh A. H. Plas dalam artikelnya Van 't oude Semarang en 't verjongde Semarang (Historische-Ethnographische schets) termuat dalam majalah Eigen Haard tahun 1911).
 
Satu-satunya peringatan yang mungkin bisa membawa orang teringat pada benteng kota Semarang pada orde Lama ialah nama-nama jalan Noorderwalstraat. Westerwalstraat. Zuiderwalstraat dan Oosterwalstraat. Nama-nama itu secara harfiahnya berarti jalan. dinding sebelah Utara, Jalan. dinding sebelah Selatan dan jalan. dinding sebelah Timur. Sekarang jalan-jalan itu namanya jalan.Merak, jalan. Mpu  Tantular, jalan. Kepodang dan jalan Cendrawasih. Nama-nama jalan tersebut benar-benar merupakan peringatan kesejarahan bahwa pernah ada dinding dari sebuah benteng kuno yang pernah mengelilingi kota Semarang. (Cf. Kuiper. K.G. Oud En Nicuw Semarang. Tropisch Nederland. 1934 - 1935).
 
Namun sementara Semarang telah kehilangan jejak masa lalunya yang sangat berharga, tidak lama setelah peristiwa itu. di seberang Timur dari kali Semarang, kita justru melihat munculnya suatu kota baru, yang memberi kesan old Semrang sebagai kota kecil. Dengan lorong-lorang jalan yang sempit dan tiada teduh, dengan rangkaian bangunan rumah yang sambung-menyambung.
Itulah kota Semarang yang baru, sementara daerah lain di luar nya masih tetap dianggap sebagai daerah luar kota. Misalnya daerah pantai laut dan demikian pula misalnya daerah Bojong, Belakang Kebon dan Poncol. Semua daerah-daerah itu, pada waktu itu secara resmi masih merupakan “buiteniiwijken" atau daerah di luar kota Semarang (Tillema H.F,.Kromoblanda. Over 't vraagstuk van ,,het wonen" in Kromo's groote land. Deel V.).

Kelenteng Sebandaran


Interior Kelenteng Tan
 
Sebuah peristiwa penting lain yang perlu dicatat dlm sejarah Semarang yang ter-jadi pada masa penjajahan Inggeris ialah pembubaran sekolah artileri di Semarang. Seperti diceritakan pada tahun 1782 di Semarang telah didirikan sekolah angkatan laut atau sekolah marine, dimaksud untuk memberikan pendidikan mengenai pelayaran, artileri. Pendirinya ialah gubernur Johannes Siberg. Jalan hingga dulu masih dinamakan "Marinestraat".
 
Ketika Daendels menjadi gubernur jenderal ternyata dia telah mengambil prakarsa mengubah sekolah tsb menjadi sekolah artileri, diantaranya. berdasarkan pertimbangan bahwa kebanyakan para pelajarnya tarnyata tidak banyak mendapatkan manfaat dari pelajaran yang telah diterimanya disebabkan karena tidak sempurnanya pengetahuan yang telah disediakannya (Plas AH opcit).
 
Namun sekolah artileri Semarang itu ternyata tidak berlangsung lama. Menjelang tanggal 1 Oktober 1812 pemerintah Inggris telah mengambil keputusan untuk membubarkan sekolah kejuruan itu. Apa alasannya tidak di ketahui dengan pasti. Mengenai hal ini Dr. I.J Brugmans pernah menerangkan bahwa pembubaran itu kemungkinan karena pemerintah Inggris tidak suka pada pendidikan tersebut, yang mendidik orang-orang yang berasal dari percampuran darah menjadi para perwira. (Brugmans. I.J Geschiedenis Van Het Onderwijs In Nederlandsch-Indie 1938). Namun sampai di mana kebenaran keterangan Dr. I.J Brugman ini tidak bisa kita pastikan.
 
Pada tahun 1814 di kalangan masyarakat Tionghoa di Semarang telah terjadi suatu peristiwa yang cukup bersejarah. yakni pendirian kelenteng baru di sebelah barat jalan Sebandaran. Pendirinya yalah Tan Tiang Tjhing, yang pada masa itu merupakan seorang saudagar Tionghoa yang hartawan.
 
Kelenteng itu dipergunakan untuk memuja Tjiang Sing Ong. Siapa yang dinamakan Tjiang Sing Ong itu dapat kita ketahui riwayatnya dari sebuah inskripsi yang terdapat di dalam kelenteng itu. Menurut inskripsi tersebut pada zamannya Song Tiauw hiduplah   seorang bernama Tan Goan Kong yang telah berhasil membuat para penduduk yang bertempat tinggal di daerah Tjiang-tjioe yang pada waktu itu masih belum mengenal kesopanan menjadi masyarakat yang bertobat dan berhasil pula menjadikan daerah Tjiang-tjioe itu menjadi suatu daerah yang makmur. Karena jasanya dia kemudian dinamakan Khay Tjhiang Sing Ong.
 
Karena dipergunakan untuk memuja Tjhiang Sing Ong, kelenteng yang didirikan oleh Tan Tiang Tjhing itu kemudian disebut klenteng Tjhiang Sing Ong. Namun karena kelenteng itu sebenar nya milik dari famili Tan dan  didirikan untuk kepentingan famili Tan, kelenteng Tjhiang Sing Ong itu kemudian juga dinamakan klenteng Tan Sing Ong (Liem Thian Joe Riwayat Semarang. 1931 - 1933).
 
Akhimya perlu dicatat bahwa untuk menutup kekurangan keuangannya gubernur Jenderal Raffles telah mengambil  beberapa tindakan, diantaranya menjual tanah2 pada orang-orang partikelir khususnya pada  orang2 Inggris.

Diantara tanah yang dijual itu terdapat sejumlah tanah di daerah Semarang diantaranya di jalan Mataram tidak jauh dari kampungnya Kyai Bustam. Setelah jatuh tangan seorang Inggris tuan tanah Inggris itu ternyata telah membuat diatas kawasannya sebidang pertamanan yang indah Karena peristiwa ini. Setelah tempat tersebut kemudian menjadi kampung, orang-orang menyebutnya Bon Inggris berasal dari perkataan Kebon Inggris yakni kebonnya orang Inggris. Tetapi nama ini di belakang hari ternyata dianggap terlalu sukar untuk diucapkan. Untuk mudahnya orang pada waktu itu kemudian lebih suka menyebutnya Bang Inggris hingga sekarang.

Kyai Bustam

Kyai Bustam

Pada waktu orang-orang Inggris mulai menyusun tata pemerintahannya di Semarang yang menjabat sebagai bupati di Semarang pada masa itu yalah Suro Adimenggolo V. Orang-orang Inggris ternyata tidak suka pada bupati Semarang itu. Dia kemudian dibuang ke Pasuruan dan meninggal di tempat pembuangannya itu.
 
Sebagaj bupati Semarang yang baru orang lnggris kemudian mengangkat seorang cucu dari Kyai Ngabehi Surodirjo yang pernah menjadi bupati Batang dan meninggal pada zaman Daendels.
 
Kyai Bustam adalah seorang tokoh yang cukup terkenal dalam sejarah tanah Jawa. Namanya disebut sebagai seorang "jurubasa" yang turut memegang peranan yang  cukup penting dalam ' Babad Giyanti". Kyai Bustam memang seorang "jurubasa". Karirnya dimulai ketika dia berhasil  mengabdi pada kompeni Belanda sebagai seorang penterjemah dan "interpretator" dgn pangkat "ngabehi" di Surabaya. Sebagai seorang pejabat Kyai Bustam ternyata sangat setia kepada tuannya. Kesetiaan nampak jelas ketika di Jawa pecah pemberontakan Tionghoa. Sementara para pejabat pribumi pada waktu itu telah beramai-ramai menyebrang pada Kanjeng Sunan di Kartasura atau ikut bergabung pada para     pemberontak Tionghoa, Kyai Bustam tetap  setia kepada  kompeni Belanda. Kyai   Bustam merupakan satu-satunya pejabat pribumi yang pada waktu itu telah berbuat   demikian.
 
Tidak heran jika karena hal itu setelah kompeni Belanda berhasil menumpas pemberontakan Tionghoa tersebut, Kyai Bustam kemudian diberi hadiah sebidang tanah yang luas yang pada waktu itu berada di dekat 'kota'' Semarang, dan yang kemudian dengan mengambil namanya dinamakan kampung Bustaman, hingga masa sekarang ini. (Baharudin Marasutanfi. Raden Saleh 1807 - 1880. 1973)
 
Kyai Bustam juga turut memberikan andilnya dalam Perjanjian Gianti (I755), dengan perjanjian mana kemudian lahir kesultanan Yogtyakarta.
Kyai Bustam telah membuat banyak jasa pada kompeni Belanda. Tidak heran jika akhirnya dia sampai bisa diangkat menjadi "onder regent” di daerah Terboyo di dekat Kaligawe terkenal dan  termasyhur hingga akhir hayatnya dengan nama Kyai Ngabehi Kertoboso Bustam (1681-1759)
 
Apa dasarnya orang Inggris justru mengambil cucu dari Kyai Ngabehi Kertoboso Bustam tersebut seorang yang dengan penuh kesetiaan telah mengabdikan dirinya hingga akhir hayatnya pada kompeni Belanda menjadi bupati di Semarang tidak kita ketahui dengan pasti. Sumbe-sumber Belanda tidak banyak memperbincangkan mengenai hal ini.
 
Dari sumber itu kita justru mengetahui suatu keterangan yang banyak menarik perhatian yaitu sekalipun keluarga Kyai Bustam sama sekali tidak mempunyai hubungan darah dengan keluarga Suro Adimenggolo, sebagai bupati di Semarang ternyata cucu Kyai Bustam itu telah menggunakan nama Raden Adipati Suro Adimenggolo. Bagi orang Jawa di Semarang hal itu sudah terang sulit untuk diterima. Tidak heran jika sekalipun "de jure" dia menamakan diri nya Raden Adipati Suro Adimeggolo, namun rakyat Semarang pada waktu itu lebih suka menyebutnya Kanjeng Terboyo.
 

Semarang di Jaman Rafles


 Kantor Residen

Tidak lama setelah Inggris berhasil merebut daerah jajahan Perancis di Indonesia, mereka segera menyusun tata pemerintahan di daerah Semarang. Kota ini pada masa penjajahan kompeni Belanda pernah menjadi suatu kawasan yang sangat penting,   sebagai Ibukota propinsi pantai utara dan timur pulau Jawa.
 
Mereka segera mendirikan tempat-tempat kediaman di Candi Lama. Menurut sumber-sumber sejarah Belanda, pada waktu itu tak ada bangsa lain yang bertempat tinggal di daerah tersebut kecuali bangsa Inggris!

Sebagai kantor-kantor pemerintahan mereka, orang-orang Inggris itu tetap mengguna kan bangunan-bangunan bekas kantor pemerintahan Belanda yang terletak di Semarang Bawah, yakni di seberang timur dari Jembatan Mberok, yang pada masa penjajahan kompeni Belanda merupakan suatu kawasan yg disebut "kota Semarang". Untuk menuju ke kantor-kantor itu, mereka harus mengadakan perjalanan yang cukup jauh, pada waktu itu makan waktu kira-kira dua jam (Ruckert. Semarang Oud En Nieuw. Indie 1914).

Pada waktu itu di Semarang di tempatkan seorang residen. Sebagai tempat kedudukannya, residen Inggris pada waktu itu menempati sebuah bangunan besar yang terletak di akhir Jalan Bojong, yang sekarang masih dapat kita saksikan di pergunakan sebagai rumah dinas gubernur atau sebelumnya sebagai tempat kantor Akademi Pemerintahan Dalam Negeri.

Bangunan itu sendiri tidak didirikan oleh orang Inggris Pendiri bangunan tersebut sebenarnya ialah Nicolaas Hartingh yang pernah menjabat sebagai gubernur pantai Utara dan Timur pulau Jawa di Semarang antara tahun 1754 - 1761 (Stein, metz. C. Cultureele Gegevens Uit Familipapieren. Van Trouwen En Sterven Onder De Compagnie. Dalam Bloemlezjng Uit Cultureel Indie. 1948).
 
Sebelum digunakan sebagai tempat kedudukan residen Inggeris, gedung besar itu sebenarnya merupakan tempat kedudukan resmi dari gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa. Hal itu berlangsung sedari awal abad ke 19 (Plas. A. PL Van 't oude Semarang en ent verjongde Semarang I. Historische-Ethnographischp schets. 1910). Sebelumnya, gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa menempatj sebuah gedung besar bertingkat yang terletak di seberang barat jembatan Mberok, tidak jauh dari Kantor Pos Besar Semarang sekarang ini yg pada waktu itu diberi nama perhiasan yang sangat bagus, yakni "de Vrijheid" alias "Gedung Mcrdeka."
 
Adapun gedung besar yang digunakan sebagai tempat kedudukan gubernur pantai utara dan timur pulau Jawa itu sendiri kemudian diberi  nama "de Vredestein" yang secara bebas  barangkali dapat diterjemahkan "Istana Perdamaian", suatu nama yg tidak kurang indah dan   merdunya dari nama istana gubernur yang lama,
 
Pada masa penjajahan Inggris gedung itu pernah dikunjungi oleh gubernur jenderal  Raffles dan isterinya yg pertama Olivia Mariana. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1813. Sebagai penghormatan hari ulang tahun raja Inggris, di gedung tsb kemudian   diadakan pesta rakyat disertai dansa-dansi. Kecuali para tamu, dalam kesempatan itu Raffles dan isterinya Juga telah ikut meramaikan suasana dengan berdansa bersama. (Semarang Als Industrieel, Commercieel En Cultureel Centrum, 1941).
 
Pada kesempatan tersebut "Vredestein" dihiasi dengan berbagai macam pajangan yang luar biasa indahnya. Sumber sejarah lama Belanda misalnya mem berikan pada kita bahwa da lam kesempatan tersebut "Vredestein" telah dihiasi dengan sejumlah tidak kurang dari 620.000 buah lampion. Suatu jumlah yang tidak tanggung-tanggung dan merupakan suatu rekor yang belum pernah terpecahkan dalam dunia pesta pora di ncgara kita hingga dewasa ini.